Tuban,Memoterkini.com – Pemprov melakukan penilaian secara daring terhadap program Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi tahun 2022 di Kabupaten Tuban, Kamis (10/08).

Bertempat di ruang RH Ronggolawe Setda Tuban, Aditya Halindra Faridzky, SE., memimpin proses penilaian yang juga diikuti Sekda Tuban, Dr. Ir. Budi Wiyana, pimpinan OPD, Kepala Puskesmas, serta petugas teknis.

Dalam paparannya, Tuban, Aditya Halindra Faridzky mengungkapkan berkomitmen melakukan percepatan penurunan stunting secara terintegrasi. Komitmen tersebut diwujudkan dengan penambahan anggaran untuk percepatan penurunan stunting. Jika pada tahun 2022 dialokasikan anggaran sebesar Rp 51,1 miliar, menambah anggaran percepatan penurunan pada tahun 2023 menjadi Rp 72,99 miliar atau naik sekitar 42,7 persen.

“Anggaran tersebut terserap untuk berbagai kebijakan lintas OPD terkait,” ungkapnya.

Sebagai bentuk jaminan hukum, komitmen dituangkan dalam Peraturan Tuban nomor 51 tahun 2022 tentang Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi. Perbup Tuban tersebut merupakan penyesuaian terhadap Perpres nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Lebih lanjut, rutin menggelar pertemuan atau rembuk stunting mulai dari tingkat kabupaten hingga desa/kelurahan, sosialisasi kepada pemerintah desa, dan pembinaan pelaku percepatan penurunan stunting (PPS) tingkat desa/kelurahan. Di Kabupaten Tuban telah terbentuk 328 Tim PPS yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan. Sebanyak 93,3 persen atau 303 dari 328 desa/kelurahan telah memiliki Kader Pembangunan Manusia (KPM).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Guna mendukung upaya percepatan, lanjut Mas Lindra, juga mengembang program inovasi dengan sasaran yang spesifik, di antaranya Kelas Calon Pengantin Puskesmas Palang (Kantin Puspa), Cegah Stunting dengan Benahi Sanitasi (Canting Besi), Gerakan Makan Pagi Bergizi Setiap Hari (Gempita), Gerakan Makan Ikan Lengkapi Gizi Seimbang (Gemilang).

Di samping itu, dijalankan program untuk melakukan intervensi dengan menyasar remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bayi, dan balita. Di antaranya pengecekan kesehatan dan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, calon pengantin, dan ibu hamil, pelayanan KB pascapersalinan, edukasi perihal pemberian ASI eksklusif bagi bayi, edukasi tentang makanan pendamping ASI. Juga dilakukan pemantauan tumbuh kembang bayi, edukasi tentang Tata Laksana Gizi Buruk, dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita gizi buruk.

Mas Lindra menambahkan upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tuban disusun sesuai dengan time line rencana kerja yang telah disusun. Tim PPS secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi pada tiap bagian.

“Sehingga berjalan sesuai dengan perencanaan dan hasil yang didapatkan optimal, yaitu mampu menurunkan angka stunting hingga serendah mungkin,” tandasnya. (Red)