Bali,memoterkini.com – 12 Oktober 2023 merupakan Hari Peringatan 21 Tahun Tragedi Bom Bali I. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah .

Yang mana serangkaian peristiwa pengeboman terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama terjadi di Paddys Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Konsulat Jenderal Amerika Serikat.

Peringatan 21 Tahun Bom Bali, Doa Perdamaian Digaungkan di Ground Zero
: Nasir Abas

Rangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005. Tercatat 203 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi tersebut.

Pada tahun ini, Yayasan FKAAI mengadakan acara peringatan tragedi Bom Bali. Kegiatan ini berjudul “Peringatan 21 Tahun Tragedi Bom Bali dan Rekonsiliasi antara Mantan Narapidana Terorisme dan Penyintas Aksi Terorisme”.

Yayasan FKAAI merupakan mitra Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan (Densus 88 Anti Teror). Kegiatan doa dan tabur bunga diselenggrakan di Ground Zero – Monumen Tragedi Kemanusiaan, dan kegiatan Rekonsiliasi di Puri Mimi Hotel, Kuta – Bali.

Peringatan 21 Tahun Bom Bali, Doa Perdamaian Digaungkan di Ground Zero
: Tabur bunga para keluarga korban Bom Bali

Yayasan FKAAI mengundang 30 orang korban bom beserta keluarga, 12 orang mantan napiter, dan 8 orang mantan kombatan dan mantan jaringan, juga mengundang perwakilan dari para pemangku kepentingan dari pemerintahan setempat. Dalam kesempatan ini, turut digelar acara rekonsiliasi antara para penyintas dan para mantan napiter.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Saat para mantan napiter berhadapan dengan para penyintas, para mantan napiter menyampaikan permintaan maaf kepada para korban atas segala perbuatan yang sangat merugikan bagi korban yang hadir di acara ini, maupun yang tidak dapat hadir.

Acara dimeriahkan oleh tarian tradisional Bali yang ditampilkan oleh Wayan, anak dari Tumini yang merupakan salah satu Penyintas Bom Bali. Para mantan napiter anggota Yayasan FKAAI juga turut mempersembahkan sebuah musikalisasi puisi, kemudian ditutup dengan penampilan dari Band mantan napiter FKAAI.

Peringatan 21 Tahun Bom Bali, Doa Perdamaian Digaungkan di Ground Zero

Yayasan FKAAI berharap dengan adanya acara peringatan ini para mantan pelaku terorisme dapat menumbuhkan rasa penyesalan atas perbuatannya, serta empati terhadap para penyintas aksi terorisme.

Karena hal yang perlu dilakukan oleh para mantan pelaku terorisme tidak berhenti pada pertobatan pribadi saja, namun harus ada permintaan maaf secara langsung kepada para penyintas, yang kemudian dibuktikan dengan memberikan pelayanan kepada penyintas, hal ini diharapkan dapat menjadi awal baik untuk kesatuan dan persatuan bangsa.

Kegiatan ini juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap terorisme agar kedepannya tidak terulang lagi tragedi-tragedi serupa di tanah air . (As/Red)