Gresik, Memoterkini – Uang rakyat senilai Rp5.106.165.087,03 yang digelontorkan untuk proyek oprit jembatan di Desa Kemudi, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik, kini disorot tajam.

Proyek jumbo yang dikerjakan oleh PT. Jaya Mulya Groups ini diduga keras tak lebih dari sekadar formalitas di atas kertas, sementara pelaksanaan di lapangan tercium bau tak sedap.

Warga setempat yang geram, mempertanyakan pengerjaan proyek yang dinilai serampangan dan jauh dari spesifikasi Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dengan anggaran sebesar itu, warga curiga proyek ini hanya menjadi ajang bancakan.

Pantauan di lokasi mengungkap kejanggalan yang mencolok. Kualitas pekerjaan teknis, termasuk paku bumi jembatan, dipertanyakan standar mutunya. Warga menduga kuat telah terjadi praktik lancung.

“Anggaran segitu gedenya, lebih dari lima miliar! Tapi lihat sendiri hasilnya di lapangan, terkesan asal-asalan. Ini main-main namanya!” ujar salah seorang warga yang menolak namanya dipublikasikan demi keamanan.

Kecurigaan publik semakin menguat bahwa proyek yang dikomandoi kontraktor berinisial YO ini sarat dengan pemotongan anggaran yang brutal. Ini bukan lagi soal kerugian negara, tapi sudah menyangkut keselamatan publik.

“Kalau pengerjaannya disunat, bagaimana bangunan bisa kuat? Apa mereka mau tanggung jawab kalau jembatan ini ambruk dan memakan korban? Ini harus diklarifikasi!” tegas warga lainnya dengan nada tinggi.

Ironisnya, hingga berita ini meledak, para pihak yang paling bertanggung jawab justru memilih bungkam seribu bahasa. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gresik, yang seharusnya menjadi pengawas utama, seolah tak punya telinga. Begitu pula PT Jaya Mulya Groups yang terkesan lempar batu sembunyi tangan.

Warga kini menuntut aparat penegak hukum dan inspektorat untuk segera turun gunung. “Jangan tunggu sampai ada korban. Usut tuntas proyek ini, Jika terbukti ada penyelewengan, seret pelakunya ke meja hijau,” pungkas warga. (Tim)