Bojonegoro, memoterkini– Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjamin asupan sehat bagi siswa di Kabupaten Bojonegoro mendadak menjadi sorotan panas dan memicu kemarahan publik.
Sebuah unggahan viral di media sosial Facebook mengungkap dugaan temuan mengejutkan, ulat hidup ditemukan di dalam MBG yang didistribusikan kepada siswa.
Unggahan yang dilaporkan oleh akun Fahri Setyo ke grup “MEDIA BOJONEGORO” ini secara gamblang melaporkan temuan menjijikkan tersebut di salah satu Sekolah di Jono dan Belun, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa masalah MBG program yang diagung-agungkan presiden RI Prabowo Subianto itu sudah terjadi untuk yang ke tiga kalinya, dan kuat dugaan hal seperti ini telah beredar di wilayah Temayang.
“Kepada yang terhormat bapak bupati Bojonegoro dan yg terkait MBG mohon ijin melaporkan, kejadian di salah satu Sekolah di Jono dan Belun Kec. Temayang Kab. Bojonegoro, sudah ke tiga kalinya MBG ditemukan ulat didalam makanan,” tulis unggahan tersebut.
Lebih parah lagi, upaya komplain kepada pengelola MBG yang bersangkutan diklaim tidak membuahkan hasil dan bahkan berujung pada pemblokiran akun. Kondisi ini memaksa pelapor membawa isu serius ini langsung ke ranah media sosial.
“Sudah mencoba komplain dengan pengelola yang bersangkutan tapi tetep masih sama, komplain ke medsosnya juga hasilnya diblokir,” tambah pelapor,
Kemudian Ia juga mendesak Bupati Bojonegoro untuk segera bertindak,” Jika tidak sanggup mengelola mohon diganti saja, tolong diperbaiki lagi kinerjanya terima kasih.” Tegasnya
Tak lama setelah unggahan temuan ulat ini, seorang netizen dengan akun “Kangpeno” memperkuat kritik dengan mengunggah foto paket makanan MBG yang kualitasnya dipertanyakan.
Komentar tersebut dengan tajam menyuarakan kekecewaan atas buruknya kualitas pangan yang diberikan kepada anak-anak sekolah.
MBG di Temayang sangat layak tutup. Makanan tak bergizi kadang telur busuk, Masa MBG isinya pentol bosok kedelai dadar gelepung Teligu klengkeng 5 butir jeruk ijo. Banyak MBG yang tidak dimakan oleh anak,” tulisnya, menyebutkan daftar isi makanan yang dinilai tidak layak konsumsi, termasuk telur busuk dan pentol bosok.
Padahal Program Makanan Bergizi seharusnya menjadi investasi untuk masa depan generasi Bojonegoro, bukan sumber penyakit dan kekecewaan.
Temuan ulat dan kondisi makanan yang diduga busuk ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari kegagalan serius dalam pengawasan dan manajemen program yang didanai oleh uang rakyat.
Warga Bojonegoro menuntut jawaban segera, Siapa pihak yang bertanggung jawab atas pengadaan dan pengawasan makanan dengan kualitas memalukan ini?
Apa langkah konkret yang akan diambil Bupati Bojonegoro untuk mencopot dan mengganti pengelola yang dinilai telah gagal total, Apakah ada sanksi hukum bagi pihak yang sengaja meloloskan makanan tidak layak konsumsi, yang berpotensi membahayakan kesehatan ribuan siswa.
Masyarakat mendesak agar pemerintah
daerah tidak hanya melakukan perbaikan kosmetik, tetapi melakukan evaluasi total terhadap program MBG. Kesehatan dan gizi anak sekolah adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.



