Malang, memoterkini – Tindakan aparat kepolisian yang menggerebek arena judi sabung ayam di Dusun Sumbertrimo, Desa Arjosari, Kecamatan Kalipare, pada Minggu (25/01/26), menuai reaksi sinis dari berbagai kalangan.
Alih-alih mendapatkan apresiasi, Penggrebekan dari Polsek Kalipare ini justru dinilai publik sebagai pertunjukan drama belaka. Pasalnya, lokasi yang biasanya bising oleh sorak-sorak petaruh, mendadak sunyi senyap tepat saat petugas tiba.
Kapolsek Kalipare, AKP Basuki Iriyanto yang memimpin langsung kegiatan tersebut mengonfirmasi bahwa pihaknya tidak mendapati adanya aktivitas perjudian di lokasi.
“Untuk antisipasi dan jadi peringatan kepada mereka, maka kami musnahkan fasilitas-fasilitas yang diduga jadi alat judi sabung ayam di sini,” ujar Kapolsek.
Namun, narasi polisi ini diragukan publik. Kecurigaan warga bukan tanpa alasan. Kedatangan petugas dalam jumlah beberapa anggota yang berakhir nihil tersangka dinilai tidak masuk akal mengingat intensitas perjudian di lokasi tersebut.
Kuat dugaan, informasi penggerebekan telah bocor ke telinga para bandar dan pemain sebelum aparat tiba. Diduga telah mengetahui pergerakan aparat sehingga berhasil meloloskan diri bersama para pemain lainnya.
”Aneh saja kalau polisi datang tapi tempatnya kosong melompong. Padahal tempat perjudian ini biasanya ramai. Ini seperti main petak umpet tapi yang jaga teriak dulu sebelum mencari. Jelas mereka kabur duluan,” ujar salah satu warga sekitar dengan nada kecewa.
Pemusnahan Alat Dinilai Hanya “Lip Service” Tindakan polisi yang membakar fasilitas tenda dan kurungan ayam di lokasi juga tak luput dari kritik pedas.
Langkah pemusnahan ini dianggap hanya sebagai upaya lip service atau pencitraan semata untuk meredam keresahan masyarakat sesaat, tanpa menyentuh akar permasalahan.
Bagi para pelaku yang diduga memiliki omzet besar, kerugian akibat di bongkarnya tempat dan kurungan bambu dianggap tidak seberapa dan sangat mudah diganti dalam hitungan hari.
”Yang di bongkar cuma bambu dan terpal, besok juga bisa dibangun lagi. Kalau mau serius, tangkap bandarnya, bukan cuma bakar tendanya. Kalau begini terus, masyarakat wajar curiga ada ‘main mata’ antara oknum dengan pengelola judi,” tambah sumber tersebut.
Publik kini menanti keberanian Polres Malang untuk melakukan evaluasi internal terkait dugaan kebocoran informasi operasi ini. Masyarakat mendesak agar penegakan hukum tidak hanya tajam saat rilis berita, namun tumpul saat eksekusi di lapangan.
Jika pola penggerebekan kosong ini terus berulang dan sosok terduga Pelaku terus melenggang bebas, kepercayaan masyarakat terhadap komitmen aparat dalam memberantas penyakit masyarakat di Malang dikhawatirkan akan runtuh.

