Jawa Timur – Dalam riuh perjuangan pasca-kudeta berdarah 1965, kala negeri ini tengah diguncang bayang-bayang pemberontakan, lahirlah kisah tentang seorang prajurit muda yang menorehkan keberanian sejati di medan tempur Letda TNI Kartomo. Namanya mungkin tak sepopuler para jenderal besar, namun darah dan keberaniannya mengalir abadi di tanah Blitar Selatan.
Ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) diketahui berupaya melancarkan kudeta dan menanam sisa-sisa kekuatannya di pedalaman Jawa Timur, Tentara Nasional Indonesia (TNI) melancarkan operasi besar yang dikenal sebagai Operasi Trisula. Operasi ini berada di bawah komando Kolonel Infanteri Witarmin, dan menjadi babak penting dalam menumpas gerakan bawah tanah PKI yang bersembunyi di hutan-hutan dan gua-gua Blitar.
Salah satu perwira muda yang dikirim ke garis depan adalah Letnan Dua Kartomo, Komandan Peleton 2 Kompi D Batalyon 521. Ia bersama rekan-rekannya Letda Achdari, Letda Basuki, Letda Fikri, Letda Tarmin Hariadi, dan lainnya berjuang menembus sarang musuh yang tersembunyi di bawah tanah. Taktik PKI saat itu luar biasa cerdik: mereka membangun jaringan ruang bawah tanah dan gua persembunyian, membuat pasukan TNI harus berperang bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan kesabaran dan keberanian luar biasa.
Dalam kenangan Letjen TNI (Purn.) RH. Soeyono, yang kala itu juga ikut terjun di operasi tersebut, disebutkan bahwa Kartomo adalah sosok perwira muda yang gagah, tenang, dan pantang mundur. Ia tak pernah ragu berada di barisan terdepan, bahkan ketika peluru musuh menghujani tanah yang basah oleh hujan dan darah.
Operasi Trisula berhasil gemilang tokoh-tokoh PKI seperti Djoko Untung, Oloan Hutapea, Lies Sulastri, dan Ruslan Wijayadastra berhasil ditangkap hidup-hidup. Namun kemenangan itu harus dibayar mahal. Pada 20 Mei 1968, di tengah operasi lanjutan bernama Operasi Halilintar yang merupakan bagian dari Trisula Letda Kartomo gugur di medan tugas.
Kabar duka itu mengguncang pasukannya. Seorang sahabat, seorang pemimpin muda yang berani, telah berpulang dengan kepala tegak demi merah putih yang ia cintai. Atas jasa dan pengorbanannya, pangkatnya pun dinaikkan menjadi Letnan Satu (Lettu) Anumerta Kartomo.
Sebagai bentuk penghormatan, namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Desa Bakung, Blitar sebuah simbol abadi dari keberanian dan pengabdian seorang prajurit muda yang gugur demi Indonesia.
Kisahnya bukan sekadar fragmen sejarah. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan dan kedamaian yang kini dinikmati lahir dari darah dan air mata para pahlawan tanpa pamrih seperti Letda Kartomo.
Sumber : Viva.co.id
#KisahKisahNyata #RealitaKehidupan
#LetdaKartomo #OperasiHalilintar #OperasiTrisula #PahlawanBlitar #TNIAD #PengabdianTanpaBatas #SejarahIndonesia



