KALIANDA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, melalui Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, secara resmi merampungkan rangkaian kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) rawan bencana yang digelar secara maraton pada akhir Mei 2026. Program strategis ini menyasar penguatan kapasitas personil Desa Tangguh Bencana (Destana) di empat wilayah pesisir kunci, yakni Destana Suak (21 Mei), Destana Maja (22 Mei), Destana Totoharjo (25 Mei), dan Destana Kelawi (26 Mei).

​Guna menghadirkan transfer pengetahuan (Tomknowledge transfer) yang komprehensif, BPBD Lampung Selatan menghadirkan instruktur berkompeten dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung. Seluruh anggota Destana dibekali dengan materi teoritis serta praktik intensif mengenai tata cara Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), teknik pembidaian pada cedera patah tulang, tindakan penyelamatan jiwa Cardiopulmonary Resuscitation (CPR)/RJP, taktik evakuasi korban dari zona bahaya, yang kemudian diakhiri dengan simulasi kontinjensi berskala lokal.

​Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung Selatan, Erwan Fatriansyah, S.E., M.M., saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari manajemen risiko bencana hulu (preventif).
Perkuat Mitigasi Berbasis Komunitas, BPBD Lampung Selatan Gandeng Basarnas Gelar Pelatihan Medis Darurat dan Evakuasi di 4 Destana

“Kegiatan KIE ini didesain sebagai instrumen penguatan kapasitas adaptif masyarakat terhadap ancaman bencana. Kami menggandeng rekan-rekan Basarnas Lampung sebagai instruktur utama agar para anggota Destana di Suak, Maja, Totoharjo, dan Kelawi mendapatkan pemahaman teknis yang terstandardisasi—bukan sekadar teori. Saat terjadi bencana, jendela waktu untuk menyelamatkan nyawa (golden time) sangatlah sempit. Oleh karena itu, kemampuan praktis seperti resusitasi jantung paru (CPR), pembidaian yang presisi, P3K, hingga teknik evakuasi harus benar-benar dikuasai secara refleks oleh Destana.

​Melalui simulasi yang kita laksanakan di akhir sesi, kami menguji kesiapan sistem komando tingkat desa. Target jangka panjang kami adalah mewujudkan kemandirian mitigasi, di mana komunitas lokal mampu bertindak sebagai responder pertama (first responder) yang tangguh sebelum bantuan logistik dan personil kabupaten tiba di lokasi.”

​Secara akademis dan operasional profesional, kegiatan KIE ini didasarkan pada tiga pilar ketangguhan bencana:
1. ​Edukasi Kognitif dan Psikomotorik: Pemaduan materi P3K dan CPR bertujuan meminimalisir angka mortalitas pra-rumah sakit (pre-hospital mortality rate) saat situasi darurat.
2. ​Standardisasi Prosedur Operasional (SOP): Keterlibatan Basarnas memastikan teknik pembidaian dan manajemen evakuasi korban berjalan sesuai dengan regulasi keselamatan nasional.
3. ​Penguatan Modal Sosial (Social Capital): Pembentukan Destana yang terlatih di Desa Suak, Maja, Totoharjo, dan Kelawi memperkuat struktur pelindung internal masyarakat terhadap ancaman bencana hidrometeorologi maupun geologi di pesisir Lampung Selatan.

Perkuat Mitigasi Berbasis Komunitas, BPBD Lampung Selatan Gandeng Basarnas Gelar Pelatihan Medis Darurat dan Evakuasi di 4 Destana

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Maturidi, S.H., memberikan penegasan mengenai arah kebijakan strategis daerah dalam pembentukan Destana secara berkelanjutan di wilayah Lampung Selatan.

“Rangkaian kegiatan KIE dan pelatihan intensif yang dilaksanakan di Desa Suak, Maja, Totoharjo, dan Kelawi ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam menggeser paradigma penanggulangan bencana—dari yang semula bersifat tanggap darurat (saat terjadi bencana), menjadi responsip – kesiapsiagaan (sebelum terjadi bencana)._

​Secara regulasi dan kebijakan, kami di BPBD terus mendorong agar desa-desa di wilayah rawan ini tidak hanya tangguh secara formalitas di atas kertas, tetapi benar-benar memiliki modal sosial dan kapabilitas teknis yang mumpuni. Anggota Destana yang telah dilatih bersama Basarnas Lampung ini nantinya akan menjadi aset strategis daerah. Mereka adalah perpanjangan tangan kami di garis depan yang memiliki legalitas dan kapasitas untuk melakukan tindakan pertolongan pertama.

​Kami berharap, instansi terkait dan pemerintah desa dapat terus bersinergi menjaga keberlanjutan program ini. Penguatan kapasitas masyarakat adalah kunci utama dalam mereduksi indeks risiko bencana daerah secara signifikan.”Harapnya

(Iwan)