SURABAYA, Memoterkini.com – Persoalan yang melibatkan seorang driver online berinisial SBY dengan lingkungan Komunitas 9 Naga Tanjung Perak Jalan Kalianget Surabaya

SBY mengaku kecewa karena merasa tidak mendapatkan pembelaan maupun klarifikasi yang cukup dalam persoalan yang berkembang hingga berdampak pada akun Grab miliknya.

Menurut SBY, persoalan tersebut bermula ketika dirinya diminta membantu terkait kasus Endry Sarbaini yang dikenal dengan panggilan Lawe.

Ia mengaku sejak awal sudah menolak untuk tidak ikut campur karena menilai persoalan tersebut bukan bidang yang dapat ia tangani.

“Awalnya saya sudah menolak keras. Ketika nama Doll mengatakan bisa membantu Lawe, saya langsung menyampaikan mohon maaf dan mengangkat tangan, karena saya tidak bisa membantu,” ujar SBY.

SBY kemudian mengaku dipanggil Rosa selaku Ketua Komunitas 9 Naga. Dalam komunikasi tersebut, menurut SBY, pembahasan berkembang dan dirinya menilai terdapat persoalan yang berbeda antara urusan dengan aplikator Grab dan persoalan pribadi seseorang.

Ia juga mempertanyakan pernyataan yang menurut pengakuannya sempat muncul dalam pembahasan mengenai seseorang bernama Christy Elsada.

SBY menilai persoalan pribadi semestinya tidak dibawa ke ruang publik tanpa persetujuan pihak yang bersangkutan, terlebih apabila menyangkut nama baik seseorang.

“Ini ada dua bidang persoalan, yaitu urusan dengan aplikator Grab dan urusan pribadi.

Jangan sampai persoalan pribadi kemudian dibuka secara umum dan menjadi aib seseorang tanpa izin yang bersangkutan,” kata SBY.

SBY juga mempertanyakan mengapa persoalan yang menurutnya sudah pernah ditangani oleh Lutfi selaku PIC Grab Surabaya kembali dibuka dan dikaitkan dengan dirinya.

Padahal, selama ini SBY mengaku dirinya kerap berperan sebagai driver sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial dan membantu menjembatani berbagai persoalan yang terjadi di lingkaran Komunitas 9 Naga.

Menurut SBY, namanya kemudian ikut terseret dalam sebuah postingan di media sosial Threads yang dikaitkan dengan akun Christine_Elsada.

Ia mengaku postingan tersebut dilakukan tanpa izin darinya dan akhirnya berdampak terhadap dirinya.

“Yang membuat saya kecewa, saya merasa tidak ada pembelaan sedikit pun. Padahal saya juga bagian dari komunitas.

Saya sampai merasa menjadi kambing hitam dan nama baik saya ikut terdampak,” ungkapnya.

SBY mengaku dampak persoalan tersebut tidak hanya menyangkut nama baik, tetapi juga berimbas terhadap aktivitasnya sebagai driver GrabCar.

Ia menyebut akun Grab miliknya masih mendapatkan sanksi sehingga selama beberapa hari dirinya tidak dapat beraktivitas seperti biasa di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak.

Ia mengklaim kondisi tersebut telah berlangsung selama enam hari tanpa adanya aktivitas pada akun tersebut.

Selain kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan, SBY juga menyebut terdapat persoalan terkait biaya pelayanan di kawasan pelabuhan, termasuk iuran pelayanan Grab serta pembayaran pintu masuk pelabuhan yang menurutnya belum terselesaikan.

“Kerugian saya bukan hanya materi, tetapi juga nonmateri. Selama akun terkena sanksi, saya tidak bisa bekerja seperti biasanya. Ini yang sangat saya sayangkan,” jelasnya.

SBY menilai kondisi tersebut terasa janggal karena persoalan yang sebelumnya ia pahami telah selesai justru kembali berkembang dan berujung pada sanksi terhadap akun miliknya.

Ia berharap seluruh pihak yang terlibat dapat duduk bersama untuk melakukan klarifikasi secara terbuka dan proporsional, sehingga tidak ada anggota komunitas yang merasa dikorbankan ataupun diperlakukan berbeda.

“Saya sangat kecewa. Dari luar kelihatannya guyup dan rukun, tetapi ending-nya justru seperti ini. Kalau memang sesama anggota komunitas, seharusnya ada komunikasi, klarifikasi dan pembelaan yang adil, bukan malah saling menyudutkan,” pungkas SBY.

(Tim)