Kalianda – Suparjo (46) merupakan salah satu warga yang membuka usaha jasa bengkel tambal ban di dusun Waringin, Desa Agom Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.
Usaha jasa bengkel tambal ban tersebut ditekuni Suparjo sejak puluhan tahun lalu.
Menurutnya, meski harus bermandikan peluh dan gemuk (kotoran bekas oli), namun pekerjaan tambal ban sangat mulia. Sebab, dengan jasa keahliannya mereparasi ban sangat membantu masyarakat.
Meski dengan hasil tak seberapa, namun menurut Suparjo, ia bisa mencukupi keseharian keluarganya. Bahkan sejak puluhan silam, usaha menambal ban kendaraan yang kempes sudah dilakoninya. Suka dan duka datang silih berganti. Akan tetapi dengan modal keuletan dan ketelatenannya, sanggup tak sanggup dirinya harus siap melewati ujian hidup.
”Alhamdulillah dengan usaha tambal ban ini, saya dan anak bisa bertahan hidup. Meski tempat berteduh ini ditumpangi warga disini ” ceritanya polos
”Saya dan anak saya hanya numpang mas disini, sampai saat ini kami belum punya rumah, namanya kita jual jasa seperti ini kadang ada, kadang tidak ada, yang jelas buat makan sehari hari saja bisa kita syukuri. Ingin rasanya mas seperti orang lain punya rumah sendiri tapi apalah daya mas mungkin nasib sudah ditentukan seperti ini,”ungkap Suparjo sambil meneteskan air mata. Pada hari Selasa, malam 14 Oktober 2025
Tim media ini terus lanjut berbincang santai dengan Suparjo, salah satu menyinggung penghasilan hingga keadaan sehari hari lalu terus berlanjut ke status anak dan istri.
Parjo menceritakan bahwa dirinya sudah lama ditinggalkan sang istri tercinta entah kemana rimbanya.
”Tanpa ada masalah apapun dalam rumah tangga, secara tak langsung istri justru memilih meninggalkan saya dan anak sejak sekitar tahun 2018 lalu,”ungkapnya lagi.
Terlihat, Suparjo dan anaknya bernama Naura menempati rumah gubuk milik salah satu warga Dusun Waringin Desa Agom Kecamatan Kalianda Lampung Selatan.
Rumah itu dimanfaatkan untuk membuka jasa bengkel dan tambal ban oleh Suparjo.
Tapi mirisnya, sang anak bernama Naura terlihat sungguh memprihatinkan kesedihan itu terus saja menghantuinya. yang seharusnya hidup sehat serta memiliki tempat tinggal yang layak justru ini sebaliknya yang dirasakan oleh Naura yang masih duduk dibangku kelas 6 SD di Desa Agom, Kecamatan Kalianda.

Bagaimana tidak, tempat tidur yang kumuh, beralas kasur bekas dan tipis, jauh dibilang layak. Padahal di telusuri oleh tim, Naura ternyata salah satu anak yang bisa dibilang berprestasi. Sosok Naura selama ini selalu diberikan peringkat walaupun hanya sebatas pringkat ke 3 dari banyaknya siswa sekelas dengannya di SD, Desa Agom, Kalianda.
Hal seperti ini, kami yakin dimasa pemerintahan saat ini, khususnya di kabupaten Lampung Selatan akan terus dibantu dan di support oleh pihak pihak dinas terkait, apalagi bapak Bupati dan wakil Bupati Lampung Selatan justru sepertinya tidak ingin melihat rakyatnya menderita hingga kesulitan dalam menimba ilmu untuk meraih kesuksesan.
(Lampung Selatan Maju, Bismillah Bisa)
Sumber : real
Editor: In

