Sidoarjo, memoterkini – Komitmen revolusioner Presiden Republik Indonesia dalam memberantas sindikat perjudian kini menemui tembok tebal di wilayah Sedati, Sidoarjo.
Masalahnya di saat Panglima Tertinggi memerintahkan pembersihan total, seorang oknum TNI AL berinisial Bang AGS justru diduga kuat tampil sebagai benteng pelindung yang menjamin kelangsungan praktik judi sabung ayam di Pepe Kwangsan.
Keterlibatan Bang AGS, yang merupakan unsur aktif TNI AL, dalam pusaran bisnis haram ini telah memicu kegaduhan publik. Ia disinyalir berkolaborasi erat dengan pengelola seperti Mrs. Yoyok dan Bang Napi untuk memastikan arena tersebut tetap tak tersentuh hukum. Bahkan menjelang agenda besar Undangan Nasional bagi para Big Bos judi se-Indonesia pada Minggu, 5 April mendatang.
Dugaan keterlibatan oknum berseragam ini bukan sekadar desas-desus. Informasi yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa nama Bang AGS disebut-sebut sebagai figur yang memberikan jaminan keamanan, sehingga para penjudi kelas kakap merasa nyaman untuk bertaruh di wilayah hukum Sedati.
Munculnya instruksi dalam pesan singkat agar aliran dana atensi disetorkan langsung tanpa perantara, semakin mempertegas dugaan adanya praktik gratifikasi sistematis yang melibatkan oknum aparat.
Fenomena ini menjadi noda hitam bagi institusi TNI AL yang seharusnya menjaga kedaulatan, bukan justru menjaga kedaulatan bandar judi seperti Mrs. Yoyok.
“Jika seorang prajurit seperti Bang AG justru menggunakan atribut dan pengaruhnya untuk memagari perjudian, maka ini adalah pengkhianatan nyata terhadap Sapta Marga dan instruksi tegas Presiden RI,” tegas sumber investigatif di lapangan.
Kini, bola panas berada di tangan Puspomal dan Pomal Lantamal V. Publik mendesak tindakan tegas: Apakah instansi militer akan membiarkan nama baiknya terseret dalam lumpur perjudian demi kepentingan pribadi oknum seperti Bang AGS?
Jika hajatan judi nasional pada Minggu, 5 April nanti tetap terlaksana tanpa ada penangkapan terhadap Bang AGS, Mrs. Yoyok, dan Bang Napi, maka supremasi hukum di Sidoarjo dianggap telah runtuh.
Awak media Memoterkini akan terus mengawal kasus ini hingga ke tingkat Markas Besar, memastikan bahwa hukum tidak boleh bertekuk lutut di bawah kaki oknum aparat yang menjadi kaki tangan bandar.


