Pasuruan, memoterkini – Proyek pembangunan drainase di Desa Karangsentul justru mendatangkan kesengsaraan bagi warga Perumahan Keboncandi, Dusun Sentul, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan. Pipa air bersih milik PDAM diduga rusak terkena galian proyek, sehingga puluhan pelanggan tidak mendapatkan air bersih selama berhari-hari. Hingga kini kontraktor dan instansi terkait belum turun menangani kerusakan tersebut.

Keluhan warga mencuat pada Jumat (14/8/2026). Warga melaporkan bahwa air dari keran PDAM tidak mengalir sejak tiga hari sebelumnya, bahkan ada yang menyebut sudah hampir satu minggu. Akibatnya warga terpaksa mencari sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sudah tiga hari air tidak mengalir ke rumah. Memang sempat mengalir sebentar, tapi tidak lama. Kami terpaksa beli air kiriman yang harus bayar sendiri,” keluh seorang warga.

Setelah ditelusuri, diketahui pipa transmisi PDAM rusak bocor akibat pekerjaan galian proyek drainase yang berjalan tidak jauh dari perumahan. Pihak pekerja di lokasi mengakui kerusakan tersebut terjadi karena tidak mengetahui adanya pipa di lokasi galian.

“Memang kena gancu karena tidak tahu ada pipa di situ. Kami sudah sampaikan ke pihak pelaksana dan katanya sudah dilaporkan ke PDAM. Tapi sampai sekarang belum ada petugas PDAM yang turun ke lokasi. Padahal pipa harus dimatikan agar tidak menghambat pekerjaan. Karena air terus memancur, pengerjaan pun jadi tersendat,” ungkap pekerja di lokasi.

Pekerjaan drainase tersebut dibiayai dari anggaran Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi, dengan data kontrak sebagai berikut:

– Nomor Kontrak: EP.01KYBA5DDM6ARHA5737F6RQFE1F

– Tanggal Kontrak: 25 Juli 2026

– Nilai Kontrak: Rp178.766.923,-

– Waktu Pelaksanaan: 60 Hari Kalender

– Pelaksana: CV Anugrah Citra Keluarga

– Konsultan Pengawas: PT Bana Inova Bikarya

Saat dikonfirmasi, perwakilan kontraktor bernama Saiful menyatakan sudah melaporkan kebocoran tersebut ke pihak PDAM. Namun fakta di lapangan menunjukkan hingga berhari-hari belum ada penanganan sama sekali. Pihak kontraktor hanya menyebut “bertanggung jawab secara lisan”, namun tidak ada langkah nyata perbaikan.

Akibat kebocoran yang tidak kunjung ditangani, tercatat lebih dari 35 sambungan rumah terdampak kekeringan. Pekerjaan utama pembangunan drainase pun justru tersendat karena pipa yang bocor terus mengalir deras.

Warga menilai pelaksanaan proyek ini kurang koordinasi dan kurang tanggung jawab. Sebelum terjadi kebocoran, tidak ada sosialisasi maupun pengecekan jalur pipa bawah tanah. Setelah rusak pun penanganan sangat lambat.

“Proyek ini tidak ada koordinasi dengan kami warga. Baru setelah pipa bocor baru ketahuan. Kerugiannya bukan hanya pipa rusak, tapi air terbuang percuma dan puluhan keluarga kesulitan air bersih. Ini semua harus diperhitungkan tanggung jawab siapa,” tegas warga.

Warga Perumahan Keboncandi berharap Dinas Terkait, PDAM, maupun pengawas proyek segera turun ke lokasi. Jangan sampai konsumen yang terus dirugikan sementara kontraktor hanya sekadar lapor tanpa tindakan nyata.

Redaksi membuka ruang tanggapan seluas-luasnya bagi pihak Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi, PDAM, maupun CV Anugrah Citra Keluarga untuk memberikan penjelasan dan langkah penanganan segera.