Lampung Selatan – Dalam pemikiran seorang rakyat biasa mungkin banyak perbedaan, apalagi dunia pemerintahan seperti pemerintah Pusat, daerah hingga desa.
Kembali lagi, sebelumnya kita membahas jauh tentang kebijakan program Koperasi Merah Putih (KMP), masih banyaknya rakyat masih teringat tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang sudah lama diluncurkan sebelumnya banyak program yang hadir atau direncanakan dari Pemerintah.
Program BUMDES juga dianggap bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
Munculnya pertanyaan itu ditengah tengah masyarakat luas, terlebih khususnya lagi di Kabupaten Lampung Selatan.
Apakabar dengan Program yang lama itu ?
Pertanyaan itu sungguh sangat layak dilontarkan ketika pada saat itu Pemerintah begitu semangat menyuarakan akan membentuk program lain seperti Koperasi Merah Putih seluruh Indonesia.
Seperti dikatakan Haris, dirinya teringat sebelumnya sebagian Koperasi Merah Putih Berdiri (KMP) di Lampung Selatan, sekitar 256 Desa yang berada di wilayah tersebut sudah memiliki lembaga ekonomi yang lain. Namanya Badan Usaha Milik Desa atau dikenal oleh Pemerintah hingga rakyat yakni (BUMDES).
Anggap Haris, Lembaga tersebut melingkup bukan hanya di Lampung Selatan saja, melainkan seluruh Indonesia. Tapi dirinya memprioritaskan bertanya untuk daerahnya.
”Lembaga itu kan bukan barang baru, usianya lebih tua dibandingkan program lainnya, bahkan mungkin usianya sudah cukup panjang, dulu program itu dilahirkan dengan harapan yang besar. Dan lebih lagi Dana Desa (DD) juga ikut menopangnya. Pemerintah pun ikut mendorongnya pembentukannya,”kata Bung Haris saat berceloteh di salah satu ruangan tanpa AC itu. Pada tanggal 14 September 2026
Pada waktu itu sejak tahun berdirinya Program BuMdes, Desa – Desa di Lampung Selatan khususnya berlomba – lomba mendirikan. Saat itu harapan juga tak kalah mulia.
Bumdes dianggap menjadi mesin penggerak ekonomi desa hingga menjadi sumber pendapatan desa bahkan bisa menjadi wadah usaha masyarakat yang memperkuat kemandirian desa.
Semua terdengar indah. Dan memang ada BUMDes yang berhasil. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan itu. Ada desa yang mampu mengelola wisata. Ada yang mengelola air bersih. Ada yang mengembangkan perdagangan hasil pertanian. Ada pula yang berhasil menambah pendapatan asli desa. Mereka layak diapresiasi.
Tetapi di sisi lain, tidak sedikit BUMDes yang nasibnya tidak seindah yang dibayangkan. Sebagian tidak lagi aktif. Sebagian kesulitan mengembangkan usaha. Sebagian hanya hidup di atas kertas.
Sepertinya Ratusan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Lampung Selatan patut diduga belum mampu menjalankan fungsi sebagai mana yang diharapkan.
Bagi Haris, angka itu bukan yang kecil, Karena di balik setiap BUMDes terdapat harapan. Terdapat tenaga dan waktu lebih lagi terdapat uang yang pernah dikeluarkan untuk membangunnya,”ungkapnya
”Karena itu saya merasa ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada pihak dinas terkait . Apa evaluasi yang telah dilakukan terhadap pengalaman BUMDes sebelum pemerintah melahirkan Koperasi Merah Putih?
Apakah persoalan yang membuat sebagian BUMDes tidak berkembang sudah benar-benar dipahami? Apakah kelemahannya sudah dipetakan? Apakah pelajarannya sudah dicatat? Ataukah kita sedang bergegas membangun lembaga baru sebelum selesai memahami persoalan lembaga yang lama?
”Kami sebagai rakyat biasa sungguh berharap kepada instansi terkait Dinas PMD hingga dinas terkait lainnya agar memberikan angin segar kepada masyarakat. Tentunha kabar lembaga BUMDES seperti angin lalu tanpa ada yang menghiraukan.
Masalah tidak selalu selesai hanya dengan membentuk organisasi baru. Kadang-kadang masalah justru berada pada cara organisasi itu dikelola.
Kadang-kadang masalah berada pada kualitas sumber daya manusianya.
Kadang-kadang masalah berada pada model usahanya. Dan kadang-kadang masalah berada pada kenyataan bahwa kebutuhan masyarakat tidak pernah benar-benar dipahami sejak awal.
Jika itu yang terjadi, maka mengganti nama lembaga belum tentu menyelesaikan persoalan. Membangun organisasi baru juga belum tentu menghasilkan hasil yang berbeda.
Karena itu sebelum kita terlalu jauh berbicara tentang Koperasi Merah Putih, mungkin ada baiknya kita menoleh sejenak ke belakang. Melihat kembali perjalanan BUMDes. Mempelajari keberhasilannya, mengakui kegagalannya dan mengambil pelajaran dari keduanya.
Sebab pembangunan yang baik bukan hanya tentang kemampuan menciptakan program baru. Tetapi juga tentang keberanian belajar dari program yang sudah ada. Karena pelajaran yang tidak pernah dipelajari biasanya akan kembali datang dalam bentuk yang berbeda.
Celotehan tertulis ini berharap ada maknanya dan sebaliknya ada pula jawaban dari pihak pihak terkait, sejauh dan semaju apakah program BUMDES itu berjalan hingga tahun 2026 ini.
(*)

